The Pursuit of Civilization
Oleh : Syai’un
Pada ciptaan Tuhan yang sempurna, manusia bernafas dan beraktifitas, beseru dan menyeru, berlari dan menaiki tangga roda kehidupan, meronta dan bahagia yang berbeda sekian detik, berjalan melalui rintangan penuh liku hanya untuk menyongsong masa depan gemilang dibawah Ridho-Nya. Entah ini masih dapat dikataan gemilang atau tidak, cahaya yang dibawa Rasulullah pada peradaban hari ini ternyata mulai redup dan akan ada ujung titik yang menjadikannya gelap gulita.
Perjalanan yang berharga adalah perjalanan yang menghasilkan begitu banyak buah hikmah yang matang dan siap dimakan. Entah itu perjalanan darat, laut, udara, tanah, ataupun perjalanan berselancar didunia tulisan yang ironisnya tak setiap orang dapat menikmati hal tersebut. Manusia sebagai subjek melewati berbagai macam rintangan yang berliku diantara semak belukar yang kian menusuk ketika dilewati, termasuk perjalanan sejarah yang akan abadi adanya.
Berlarinya sang waktu kebelakang akan menggemparkan hal yang luar biasa, seperti kita tahu bahwa hampir 1500 tahun yang lalu dunia berada dalam kegelapan yang pekat. Manusia yang tenggelam dalam kejahiliahannya (kebodohan) dalam segala aspek, tak dapat bangkit membangun peradaban yang gemilang. Katakanah, yang penulis maksud adalah masa kelam bangsa Arab dimana terjadi ketimpangan sosial kalangan bangsawan dan budak, protitusi menjadi hal biasa, meminum khamr dibanggakan, manusia layaknya hidup bagai benda mati. Kondisi ekonomi lemah karena tidak adanya keamanan. Temasuk sikap bodoh dimana mereka menyembah patung yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri dan menganggapnya itu adalah Tuhan.
Hal demikian yang termasuk kejahiliahan dalam segala aspek kehidupan sedikit demi sedikit sirna setelah datangnya Islam Sebagai pelita yang akan membangun peradaban. Apa yang Allah wahyukan untuk pertama kalinya kepada Rasulullah sebagai ajaran Islam?
Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril dengan berkata “Iqra!” (bacalah),
“aku tidak bisa baca” (H.R Bukhori no.3) ucap Rasulullah. Kemudian malaikat Jibril memeluk dan memegang Nabi dengan kuat dan berkata lagi “Iqra!”
“aku tidak bisa baca” ujar Nabi. Untuk yang ketiga kalinya Maaikat Jibril berkata:
اِقْرأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِىْ خَلَقَ…
“bacalah dengan menyebut nama tuhanmu”
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. “bacalah, dan tuhanmulah yang Maha Pemurah”
Nabi membawa kalimat wahyu dengan gelisah dan sangat ketakutan dan meminta untuk diselimuti, gemetar, akibat pengaruh dari kalimat Allah yang agung dan mulia. Terbukti dari kisah singkat ini bahwa betapa membaca adalah hal yang termasuk paling urgent. Selanjutnya kita pahami bahwa ayat ini bukan hanya agar manusia membaca sesuai dengan konteks bahasanya, tetapi dalam konteks maknanya manusia diperintahkan untuk belajar.
Disebutkan bahwa Allah memiliki sifat pemurah yag luas karunianya yang besar pada mahluk-Nya. Seperti kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah “Diantara bentuk karunia Allah pada mahluknya adalah dia mengajarkan ilmu pada manusia sebagaimana pada firman-Nya. Allah mengajarkan manusia Al-Qur’an, qolam yang bisa membuat ilmu semakin lekat.
Terbukti pada masa selanjutnya , Islam yang lahir dikalangan bangsa Arab. Peradaban bangsa Arab dikatakan menjadi peradaban yag paling maju dengan berdirinya Negara Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasuullah SAW. Berdirinya sebuah Negara bukan berdasarkan ras, keyakinan, ataupun kepentingan pribadi yang hanya untuk memenuhi nafsu semata, Tetapi berdirinya Negara Madinah yang didasarkan pada Islam, menjadi cikal bakal peradaban yang bercahaya didunia dengan perluasan wilayahnya sampai daratan Eropa.
Semua orang tahu Mark Zuckerberg sang pendiri facebook yang fenomenal, Bill gates sang penemu Microsoft, Jan Koum sang penemu WhatsApp yang paling sering kita pakai setiap hari. Thomas Alfa Adison, James Watt, Alexander Graham Bell, ketenaran mereka sudah bukan menjadi rahasia lagi. Tapi kita buta kepada siapa sebenarnya ilmuwan yang mencerahkan dunia ini. Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, dan beribu-ribu tokoh yang mencerahkan dunia dengan berbagai ilmu pengetahuannya.
Pada masa kejayaannya Islam sekitar tahun 750 M -1258 M versi Wikipedia, saat dimana para ilmuan muslim menyumbangkan begitu besar pemikirannya untuk dunia. Namun sayangnya, tak banyak orang yang sadar bahwa ilmuan muslim lah yang membangun peadaban ilmu. Alih-alih yang dipercaya adalah orang barat yang menguasai ilmu dan pengetahuan. Benar sekali memang dapat dikatakan sekarang orang orientalis lah yang memegang kejayaan. Tapi awalnya, kejayaan ada berada pada cahaya Islam , dari perintah-Nya, “Iqra!”.
Penulis sependapat dengan yang pernah disampaikan Ustadz Anis Matta bahwa Sejarah pasti akan berulang dan akan kembali menampakan wajahnya dalam bentuk yang berbeda, dalam kisah, sosok dan cerita dan setting yang berbeda, namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Karena tulah mengapa salah satu alasan mengapa sejarah itu ada, sebagai wahana pembelajaran. Maka jika ingin mencerahkan kembali tanah air Indonesia dalam cahya ilmu, yang paling cocok adalah Membudayakan Literasi dikalangan masyarakat. Entah itu dikalangan orang tua, anak-anak , ataupun remaja. Bukan Hanya literasi yang dimaksud adalah membaca, namun literasi yang menghasilkan suatu karya. Karena Literasi merupakan esensi perintah Allah yaitu “Iqra!”
Memang menjadi tantangan yang luar biasa berat untuk mewujudkan hal itu, tetapi penulis percaya bahwa sejarah akan terulang, peradaban akan bereinkanasi dengan ilmu pengetahuan, aka nada masanya setiap individu yang mendidik generasi kembali pada kata “Iqra!”(bacalah).

Posting Komentar
0 Komentar